2w9XXXqFFr2urjtzDD4JF5tXo1_500

Sebuah Kesabaran Untuk Menunggu

Posted on August 6, 2012 · Posted in Bimbingan Kasih, Kasih Lestari

Manusia sekarang lebih suka mengharapkan hasil yang instan dan cepat ketimbang sedikit bersabar untuk sesuatu yang lebih baik. Seringkali kita terlalu tergesa-gesa mengambil sebuah keputusan untuk berhenti padahal tinggal selangkah lagi menuju gerbang keberhasilan. Inilah kesalahan yang kemudian disesali hanya karena tidak mau sedikit lebih bersabar untuk menunggu hasil dari sebuah perjuangan.

 

Hidup di dunia bagaikan berada di sebuah ruang tunggu dimana kita menunggu dengan atau tanpa kepastian apa yang akan terjadi sedetik kemudian. Memang tidak mudah untuk menaruh lebih banyak kesabaran ketika menunggu sebuah hasil apalagi saat kita merasa telah berbuat yang terbaik dan sesuai kemampuan yang ada. Apalagi ketika melihat semua usaha yang telah ditabur seolah tidak berarti dan penuh ketidak-pastian. Tetapi toh hidup memang begitu adanya dan kita harus menjalani setiap siklus dan proses yang kadang berliku-liku demi sebuah kepastian akan keberhasilan. Sadar tidak sadar sesungguhnya kita sedang dituntun utnuk menggali lebih banyak kesabaran dari dalam diri untuk menunggu sembari berusaha yang terbaik demi sebuah harapan yang ingin digapai. Dan tentunya ketika menunggu ada usaha yang dilakukan sehingga bukan Cuma menunggu rezeki nomplok tanpa melakukan apa-apa.

 

Adalah sifat dunia ada berkah dan musibah, ada hina dan mulia, ada sakit dan sehat, ada lahir dan akhirnya mati. Semua ini adalah proses kehidupan yang harus dijalani. Tak ada seorangpun yang bisa terlepas dari jerat masalah karena selama hidup di dunia tak lepas dari jeratan sebab jodoh karma yang harus diselesaikan. Dan tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan asalkan ditangani dengan tenang dan hati yang lapang seluas samudera. Hadapi dengan kesabaran setiap masalah maupun tantangan yang datang di dalam hidup. Hanya dengan bersabar barulah bisa melewati setiap proses kehidupan dengan mulus dan berarti.

 

Setiap orang pasti pernah dicela, dilecehkan atau direndahkan. Kata-kata tajam bagaikan sebilah pedang yang menusuk ulu hati rasanya sudah cukup membuat kita serta-merta memakai atribut sebagai seorang yang teraniaya dan tersakiti meski hanya karena sebuah kata. Terkadang luka yang ditimbulkan oleh hinaan dan celaan justru lebih dalam dan sulit kering ketimbang luka fisik yang hanya membutuhkan sedikit penanganan yang tepat dan higienis. Ketika diremehkan dan direndahkan, rasanya hati ini seolah hancur berkeping-keping, lantaran harga diri seolah terkoyak dan tercabik-cabik oleh hinaan dari celaan yang kadang menyakitkan. Ketika hati yang telah hancur berkeping-keping ditata kembali, sudah ada retakan dan celah yang tak mungkin tertutupi lagi dengan sempurna. Tetapi dengan sebuah kesabaran akan mampu mengalahkan semuanya. Kesabaran lebih penting daripada mengedepankan emosi sesaat, sakit hati, dan dendam.

 

Orang sabar itu dikasihi Tuhan. Begitu yang selalu kita dengar dan kenyataannya itulah yang mesti kita percayai. Sebab Tuhan (LAOMU) tak pernah menelantarkan anak-anakNya yang sabar dan tabah meski teraniaya dan tersakiti.

 

Eni Chandra

Sumber : Majalah Maitreya 2010