Gunung Cik-Cik

Posted on June 8, 2012 · Posted in Kasih Lestari, Kisah Kasih

Dahulu kala hiduplah sepasang kakek dan nenek di kaki sebuah bukit yang indah. Setiap hari kakek bekerja di ladang untuk menanam lobak, sedangkan nenek mencuci dan memasak di rumah. Saat itu adalah menjelang musim panen lobak. Karena itu kakek benar-benar menjaga ladangnya agar tidak ada yang merusaknya.

Tetapi suatu malam, ketika kakek sedang berada di rumah, seekor rubah besar mendatangi ladang kakek dan mencuri beberapa lobak. Selain itu Sang Rubah juga itu mengacak-acak tanaman lobak yang lainnya. Keesokan paginya, ketika kakek pergi ke ladang la sangat terkejut. Banyak tanaman lobaknya yang telah rusak. Ia pun lalu bekerja kembali untuk memperbaiki ladangnya. Setelah memperbaiki ladangnya, kakek mendapatkan akal untuk membuat sebuah penjerat agar pencuri lobaknya dapat segera tertangkap.

Malam itu, Sang Rubah jahat kembali mendatangi ladang kakek. Ketika ia sedang asyik mencakar-cakar tanah sekitar tanaman lobak, kakinya terjebak jerat buatan kakek. “Aduh sialan!” teriak rubah itu. Rubah jahat itu pun tidak bisa kemana-mana lagi karena kakinya terjerat. Esok paginya, sesampainya di ladang, kakek benar-benar merasa gembira karna sang pencuri dapat tertangkap.

“Nenek, aku bawakan rubah yang merusak tanaman kita nih! Daging rubah pasti sedap untuk makan malam kita nanti.” kata kakek dengan menunjukkan seekor rubah besar yang telah diikat kakinya.
Nenek tersenyum senang. Setelah meletakkan rubah itu di dapur, kakek kembali ke ladang untuk bekerja. Sedangkan nenek masih bertahan di dapur untuk membuat kue ketan. Dengan menggunakan kayu penumbuk nenek menumbuk nasi ketan yang akan dijadikan kue.
“Aduh, berat sekali penumbuk ini.” kata nenek kelelahan. Melihat nenek yang sedang kelelahan, timbul akal licik sang rubah.

“Nenek, lepaskan tali ini, biarkan aku membantu menumbuk nasi ketan itu. Nenek tentu capek kan?” kata rubah merayu. “Tidak, nanti kamu pasti kabur kalau talinya aku lepaskan!” ujar nenek sambil mengusap peluh di dahinya.
“Tidak, Nek. Percayalah. Aku tidak akan kabur kok!” rayu rubah lagi.
Karena merasa sangat kelelahan, dan kue itu harus segera jadi, maka nenek pun akhirnya melepaskan tali pengikat sang rubah, agar ia bisa membantu menumbukkan nasi ketan.
“Terima kasih, Nek” kata rubah.

Ternyata benar, ketika nenek sedang lengah, rubah itu segera meraih kayu penumbuk dan memukulkannya ke kepala nenek. “Dug!”
“Aduh…!” nenek menjerit kesakitan, lalu pingsan.
Setelah itu, dengan tertawa terbahak-bahak rubah segera berlari meninggalkan rumah itu.

Sore harinya, kakek pulang ke rumah. Ketika dilihatnya tubuh nenek tergeletak di lantai, kakek terkejut. Ia pun menangis tersedu-sedu karena dikiranya nenek sudah meninggal. Kakek sudah bisa menebak, pelakunya pasti rubah yang telah terlepas. Kebetulan, saat itu lewatlah Usagi, seekor kelinci putih sahabat sang kakek. Melihat sang kakek menangis, ini pun bertanya-tanya. “Ada apa, Kek?” tanya Usagi seraya mendekati sang kakek.
Setelah kakek menceritakan asal mula kejadiannya, Usagi pun jadi mengerti.
“Tenanglah, Kek! Aku akan membalaskan sakit hati kakek dan nenek pada Si Rubah jahat, itu!” kata Usagi menenangkan hati kakek.

Keesokan harinya, Usagi sedang menuruni gunung dengan menggendong beberapa ranting kayu di punggungnya. Tiba-tiba dari arah belakang datanglah seekor rubah menghampirinya. Rubah itulah yang telah memukul nenek kemarin.
“Apa yang sedang kamu lakukan Usagi?” tanya rubah.
“Oh, Kitsune. Selamat Siang! Aku sedang mengangkat ranting-ranting kayu dipunggungku.”

Dalam waktu singkat, rubah berhasil mengumpulkan banyak ranting dan mengangkut di punggungnya.
“Ayo, kamu berjalan di depan!” kata Usagi menyuruhnya berjalan lebih dulu.
Tanpa sepengatahuannya rubah, Usagi mengambil batu api dan menggesek-gesekkannya ke arah rating kayu di punggungnya.
“Cik…cik…”
“Bunyi apa itu?” Tanya rubah penasaran.
“Ah, itu mungkin bunyi burung Cik cik yang sedang bernyanyi.” Jawab Usagi berbohong.

Lalu Usagi kembali menggesek-gesekkan batu api itu ke arah ranting di punggung Kitsune. “Cik..cik..” Beberapa saat kemudian keluarlah percikan api dari batu tersebut. Api yang keluar dari batu itu mengenai ranting kayu dan membakar semua ranting kayu di punggung rubah. Rubah pun menjerti kesakitan.

“Aduh panas sekali, tolong…!” teriaknya dengan pungung yang penuh bara api. Melihat kejadian itu Usagi pun tertawa kegirangan.
“Ha..ha..ha..rasakan pembalasan dari kakek!” kata Usagi sambil tertawa puas. Setelah melihat rubah yang berlari kepanasan, ia kemudian melanjutkan perjalannnya pulang ke rumah.

Keesokan harinya, di sebuah hutan yang sepi, Usagi Sedang menumbuk-numbuk cabai di atas sebuah batu. Lalu datanglah rubah dengan punggung yang penuh luka bakar. “Hei, kamu kelinci gunung yang kemarin membakar kayu di punggungku ya!” teriak Rubah kepada Usagi.
“Enak saja. Kelinci gunung ya kelinci Gunung. Aku Usagi, si Kelinci hutan,” kata Usagi menepis tuduhan Rubah.

“O, begitu ya? Ngomong-ngomong, kamu sedang membuat apa?”
“Aku sedang membuat ramuan mujarab penyembuh luka.”
“Kalau begitu, boleh tidak aku minta sedikit untuk menyembuhkan luka di pungungku ini?” tanya rubah sambil menunjukkan punggungnya yang penuh luka.
“Boleh saja. Silahkan. Ramuan ini ditempelkan pada bagian yang terluka. Tetapi untuk luka kamu itu mungkin ramuannya masih kurang. Tunggu dulu ya. Aku akan mencari bahan tambahannya ke dalam hutan.” kata Usagi sambil beranjak pergi.

“Terima kasih ya,” kata rubah tersenyum senang.
Karena ditunggu tidak muncul-muncul akhirnya rubah sudah kehilangan kesabaran. Dibubuhkannya ramuan cabe itu ke punggungnya, dan….
“Aduh, panas. Panas..!” Rubah menjerit-jerit kesakitan akibat ramuan cabe itu.
Keesokan paginya, ketika Usagi sedang melubangi sebatang pohon yang sudah tumbang, datanglah Kitsune yang meringis-ringis menahan sakit ke tempat itu.

“Hei, kamu Kelinci Hutan yang kemarin membohongiku ya?” teriaknva marah kepada Usagi.
“Enak saja kamu bilang. Aku Kelinci Pantai, bukan Kelinci hutan!” jawab Usagi pura-pura marah.
“Oo, begitu. Kalau begitu maaf ya? Eh, kamu sedang membuat apa?” tanya rubah mendekat.
“Aku membuat perahu. Sekarang kan musim memancing ikan. Jadi aku mau menaiki perahu ini untuk memancing ikan di laut.” jawab Usagi nienjelaskan.
“Oya? Mmn, boleh tidak aku ikut membuat perahu? Aku juga ingin memancing ikan!” kata rubah.
“Silahkan! Tapi karena badan kamu sangat besar, mungkin lebih baik kamu membuat perahu dari batu yang besar saja!” kata Usagi dengan muka seriusnya.

“Baiklah kalau begitu. Aku ingin membuat perahu yang besar, agar dapat menampung ikan sebanyak-banyaknya.” Kata rubah dengan gembira.
Dalam waktu singkat, perahu yang dibuat Usagi maupun rubah sudah jadi dan siap untuk dinaiki sampai ke tengah laut. Mereka pun akhirnya memancing bersama. Tidak lama kemudian, sudah banyak ikan yang telah mereka dapat. Tetapi karena rubah ingin mendapatkan ikan yang lebih banyak, maka lama kelaman perahunya yang terbuat dari batu itu pun mulai kelebihan muatan. Perlahan-lahan perahunya pun tenggelam.
“Aduh, bagaimana ini perahuku mulai tenggelam! Tolong-tolong!” teriak rubah.

“Ha..ha..ha… itu akibat keserakahanmu dan itu juga pembalasan dari nenek!” kata Usagi sambil tertawa terbahak-bahak. Usagi pun akhirnya kembali ke pantai. sambil membawa tangkapan ikannya, ia mengunjungi rumah kakek. Ternyata setelah beberapa hari nenek pun sudah mulai sembuh dari sakitnya. Sejak kejadian itu, persahabatan antara Usagi dan kakek-nenek pun semakin erat.

Catatan:

Cerita ini berjudul asli Kachi-kachi Yama (Gunung yang berbunyi Cik-cik), berasal dari Prefektur Miyagi). Nilai-nilai positif yang bisa diambil dari Cerita ini antara lain adalah kesetiakawanan dan saling tolong menolong adalah perbuatan yang mulia, dan segala perbuatan jahat akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Sumber cerita: Kisah Jepang Klasik
Sumber gambar: gusuhan.blogspot.com