milek-ta-fo-cu

Budaya, Peradaban dan Moralitas Baru Part-2

Posted on November 24, 2012 · Posted in Bimbingan Kasih, Kasih Lestari

Inilah semangat yang harus dikembangkan oleh seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Muda, Pelaksana, Dharmaduta, dan seluruh umat. Dengan memiliki semangat dunia satu keluarga ini, kita akan menjadi manusia abad-21 yang paling bermartabat dan berkualitas. Kita baru dapat membantu misi Buddha Maitreya dan berpartisipasi pada babak penyatusempurnaan terakhir kelak. Jika tidak demikian, kita akan tereliminasi oleh zaman!

Berkat kemajuan transportasi dan teknologi informasi, serta jangkauan internet yang menakjubkan, dimensi waktu dan ruang di bumi menjadi semakin kecil. Dengan satu telepon genggam, kita bisa terhubung ke seluruh pelosok dunia. Sebelum abad-21, konsep ‘dunia bagai satu desa’ telah menjadi tren di masyarakat. Saat itu telah ramai dibicarakan bahwa dimensi ruang semakin kecil dan waktu semakin singkat. Kini memasuki abad-21 yang semakin maju, konsep ‘dunia satu desa’ secara alami tak terbendung, berubah menjadi ‘dunia satu keluarga’.

Sayangnya, walau dimensi ruang dan waktu semakin mengecil, dunia satu keluarga belum juga terwujud. Dunia ini masih terpecah belah! Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah masih eksisnya dinding-dinding pemisah yang menjulang tinggi di antara umat manusia, sehingga menghalangi umat manusia untuk hidup harmonis dan saling mengasihi.

Egoisme, prasangka, dan ketidaktahuan umat manusia, membuat dunia satu keluarga menjadi sulit dicapai. Begitu banyak dinding pemisah yang kasat mata. Beda kewarganegaraan menjadi dinding pemisah. Beda agama juga menjadi dinding pemisah yang tinggi. Beda ras, warna kulit, dan bangsa adalah suatu dinding pemisah. Beda budaya dan ideologi juga menjadi dinding pemisah. Adat istiadat dan kebiasaan juga adalah dinding pemisah. Beda aksara dan bahasa juga dinding pemisah. Kaya, miskin, mulia, dan hina juga menjadi dinding pemisah. Pandai, bodoh, cantik, dan buruk rupa juga suatu dinding pemisah. Dan yang lebih trendi lagi, perbedaan partai juga membangun dinding pemisah. Terlalu banyak dinding pemisah!

Dinding-dinding pemisah ini menghalangi rasa persaudaraan umat manusia dan membuat jarak sesama semakin jauh. Sekalipun dimensi waktu dan ruang sudah menyempit, namun jarak antarsesama manusia justru semakin melebar. Terdapat terlalu banyak pertentangan. Terlalu banyak sikap dingin, saling menjauhi, saling berselisih dan bermusuhan. Akhirnya timbul pertikaian, percekcokan, saling menganiaya, dan saling mencelakai. Semakin hari semakin parah. Dan hingga detik ini belum ada tanda-tanda penyelesaiannya. Inilah sisi gelap dari kehidupan umat manusia, sisi yang paling menyedihkan dan memprihatinkan!

Sebagai siswa-siswi Maitreya, kita semua mendapat Titah dari Tuhan dan Buddha Maitreya untuk mewujudkan suara hati Tuhan dan jiwa Buddha Maitreya, yaitu mewujudkan dunia satu keluarga sesegera mungkin. Inilah tujuan hidup yang harus diwujudkan oleh kita semua. Inilah proyek pekerjaan yang paling akbar dalam hidup kita. Inilah intisari dari pembinaan dan pengamalan dalam Maha Tao Maitreya. Terpisah dari intisari ini, semuanya menjadi pembinaan yang sia-sia dan tiada guna. Tugas dan misi siswa-siswi Maitreya adalah melenyapkan dinding-dinding pemisah yang tak terhitung jumlahnya. Apalagi sebagai Pandita dan Dharmaduta, kita harus terus membabarkan kebenaran untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah tersebut!

Puji syukur atas Rahmat Tuhan, Kasih Buddha Maitreya, dan Kebajikan Dwiguru Agung Nurani. Buddha Maitreya telah mengarahkan kita kepada konsep ‘dunia satu keluarga’ untuk meruntuhkan berbagai jenis dinding pemisah. Namun selain memiliki konsep, kita juga membutuhkan tenaga-tenaga manusia untuk menerapkannya, sehingga dinding-dinding pemisah tersebut baru dapat diruntuhkan satu-persatu.

Makna luhur Tembang Pujian Semesta adalah intisari dari budaya kasih semesta. Untuk meruntuhkan dinding-dinding pemisah, hanya dapat dilakukan dengan mengembangluaskan budaya kasih semesta, agar kasih semesta menjadi nilai, kebudayaan, peradaban, dan kebiasaan bersama seluruh umat manusia, menjadi nilai, budaya, dan peradaban baru abad-21. Kasih semesta berarti mengasihi langit-bumi, semua manusia, seluruh makhluk dan segala kehidupan. Jika setiap insan telah melaksanakannya, maka dengan sendirinya dinding-dinding pemisah tersebut akan runtuh dan hilang tak berbekas.

Disadur oleh : LiangYiin
Sumber gambar : mariuszhong.blogspot.com